Tingkatkan Relevansi Sosial, ITSNUKA Didorong Bangun ‘Mesin Pertumbuhan’ Melalui Unit Bisnis dan Inovasi Lokal

PALANGKA RAYA – Perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di era kompetisi digital dituntut untuk melakukan lompatan besar dan tidak terjebak dalam rutinitas administratif semata. Hal tersebut ditegaskan oleh Dr. Abu Amar Bustomi (Tim Asistensi LPT PBNU) dalam forum penguatan strategi pengembangan kampus di Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Kalimantan (ITSNUKA), baru-baru ini.

Dalam paparannya, Dr. Abu Amar menekankan bahwa kampus yang lahir dari keterbatasan justru harus memiliki keberanian untuk bergerak lebih agresif, adaptif, dan inovatif. Menurutnya, ukuran fisik bangunan bukan penentu kesuksesan, melainkan besarnya energi dan jejaring yang dibangun.

“Kampus kecil tidak boleh bergerak kecil. Yang menentukan keberhasilan kita bukan besar gedungnya, tetapi besar energi, keberanian, dan kekuatan jejaring yang kita bangun,” tegas Dr. Abu Amar Bustomi di hadapan civitas akademika ITSNUKA.

Membangun Relevansi dan ‘Mesin Pertumbuhan’
Ia menjelaskan bahwa transformasi kampus harus dimulai dari perubahan pola pikir (mindset). Kampus tidak boleh lagi hanya pasif menunggu mahasiswa datang, melainkan harus aktif menjemput kebutuhan masyarakat, dunia kerja, hingga sektor pesantren yang selama ini belum tersentuh oleh perguruan tinggi besar.

“Perguruan tinggi hari ini tidak cukup hanya membuka program studi. Kampus harus mampu membuka jalan hidup bagi masyarakat. Di situlah perguruan tinggi akan menemukan relevansi sosialnya,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia mendorong ITSNUKA untuk membangun “mesin pertumbuhan” melalui pengembangan unit bisnis produktif, pelatihan profesi, sertifikasi cepat kerja, hingga penguatan jejaring Corporate Social Responsibility (CSR). Inovasi berbasis kebutuhan lokal Kalimantan, seperti desa digital dan industri kreatif, dinilai sebagai peluang emas bagi ITSNUKA untuk bertumbuh.

Branding Digital dan Mental Penggerak
Dr. Abu Amar juga menyoroti peran vital media sosial sebagai instrumen percepatan branding institusi. Kampus harus mampu tampil “hidup” dan dekat dengan masyarakat melalui narasi-narasi besar yang memberikan harapan bagi generasi muda di Kalimantan.

Namun, ia mengingatkan bahwa segala strategi tersebut hanya bisa berjalan jika didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki mental penggerak. “Pada fase pertumbuhan, kita tidak membutuhkan sekadar pegawai administratif, melainkan tim yang memiliki mental penggerak; mereka yang mampu membangun relasi dan menciptakan peluang,” jelasnya.

Forum strategis ini diharapkan menjadi katalisator bagi ITSNUKA untuk segera bertransformasi. Dengan wilayah strategis yang sedang tumbuh di sektor teknologi dan lingkungan, ITSNUKA memiliki potensi besar untuk menjadi kampus yang tidak hanya bertahan, tetapi unggul dan memiliki daya saing regional di tanah Kalimantan.

[xs_social_share]

Leave a Comment